Gejala Omicron

Gejala Omicron dan Mengapa Varian Ini Sangat Mudah Menyebar?

Gejala Omicron – Makan gak makan, gak ngumpul. Mungkin anekdot peribahasa ini tepat diutarakan saat ini.

Pasalnya, dalam beberapa minggu belakangan, headline berita di seluruh dunia hampir selalu mengenai hal yang sama : angka pasien covid-19 selalu meningkat. Alhasil, kita Kembali harus makin memperketat protokol Kesehatan yang selama ini kerap  kita jalankan. Meski mungkin bisa kita lihat bahwa semakin menurunnya angka penyebaran, masyarakat semakin santai; makin banyak masyarakat yang melonggarkan protokol tersebut. Padahal meskipun sudah mendapatkan vaksinasi covid lengkap, protokol kesehatan harus tetap kita jaga. Apalagi jika belum mendapatkan vaksin boosternya.

Kondisi peningkatan ini timbul setelah sebelumnya angka pasien covid mengalami penurunan terus menerus semenjak vaksinasi covid mulai digalakan di pertengahan tahun 2021 silam. Sebetulnya beberapa ahli sudah memprediksi adanya peningkatan penyebaran Covid lagi di awal tahun 2022 dengan sebutan ”gelombang ketiga”. dr.Meta Melvina dari inHarmony Clinic dan Yayasan Bersatu Sehatkan Indonesia sempat membahas hal ini dalam sebuah video yang kami rilis beberapa bulan lalu.


Benar saja, sejak pertama kali diberitakan muncul di Afrika Selatan, Omicron telah menyebar dengan sangat cepat ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, sampai tanggal 15 Februari 2022 silam, jumlah kasus baru mencapai angka 64 ribu kasus. Lalu apa sebenarnya yang membuat varian Omicron sangat mudah menyebar, bahkan melebihi varian-varian covid lainnya? Kita cek dulu gejalanya ya!

Gejala Omicron

Tidak banyak perbedaan dari gejala ini dengan gejala varian-varian sebelumnya. Gejala yang umum diketahui adalah batuk, pilek, sakit kepala, dan kelelahan. Meski data menunjukkan bahwa gejala yang ditimbulkan tidak seberat varian-varian sebelumnya, Omicron diketahui menyebar dengan lebih mudah. Ilmuwan sampai saat ini masih meneliti seberapa mudah penyebarannya terjadi. Ilmuwan memprediksi bahwa seseorang yang terinfeksi virus ini dapat menyebarkan Omicron kepada orang lain, bahkan jika orang tersebut sudah divaksinasi dan tidak ada menunjukan gejala apapun.

Bermacam jumlah varian dengan tingkat keparahan dan penularan yang berbeda-beda ini adalah akibat dari mutasi virus Covid-19.

Bagaimana Virus Bermutasi?

Omicron adalah salah satu yang paling baru diketahui, dari banyak mutasi varian Covid-19. Seperti yang sudah kita ketahui, varian ini dapat menyebar dengan cepat dan sangat mudah jika dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya (varian Delta misalnya) meskipun gejala yang ditimbulkan juga relatif lebih ringan.

Yang menyebabkan variasi pada sebuah virus adalah mutasi. Kita sudah sering mendengar tentang hal ini, namun apakah kita tahu bagaimana cara virus bermutasi?

Virus bermutasi secara acak. Perubahan terjadi di dalam tubuh (lebih tepatnya dalam kode genetik) virus tersebut. Setiap kali virus menular, virus akan berusaha memperbanyak diri di dalam tubuh inangnya. Saat memperbanyak diri dan menular ke inang baru ini lah virus dapat mengalami mutasi.

Mutasi tidak selalu memberikan kekuatan kepada virus. Kebanyakan mutasi bahkan malah berakibat merugikan kepada virus tersebut atau bahkan netral. Namun kadangkala karena sifatnya yang acak, mutasi bisa juga membuat virus menjadi semakin berbahaya; semakin mudah menular, semakin parah gejalanya, atau bahkan bisa menular antar spesies (seperti virus influenza).

 Karenanya langkah terbaik yang kini bisa kita lakukan bersama adalah menghentikan penyebaran virusnya. Dengan begitu kemungkinan virus covid untuk bermutasi pun semakin kecil. Vaksinasi masih menjadi proteksi terbaik dari virus, karena semakin banyak orang yang kebal dengan sebuah virus, semakin sedikit kemungkinan virus tersebut untuk menular, semakin sedikit pula kemungkinan virus tersebut untuk bermutasi.

Author Info

Klinik

No Comments

Post a Comment

2 × 4 =